Monday, December 17, 2012

Kata Bijak "Kearifan Gula Batu"

Zi Gong atau Cu Khong adalah salah satu murid utama Shen Ren Kong Zi. Hubungan guru dan murid ini juga begitu dekat. Saking dekatnya, ketika Kong Zi wafat, Zi Gong tinggal disamping makam gurunya selama enam tahun. Sementara murid-murid yang lain maksimal hanya tinggal di area makam selama tiga tahun. Kalau kita berziarah ke makam Kong Zi di Qufu, Jazirah Shandong, Tiongkok, gubug tempat Zi Gong menginap masih bisa kita jumpai. Bahkan sebatang pohon yang ditanam Zi Gong pada tahun 479 SM, masih tersisa sampai sekarang, meski sudah dalam keadaan tidak utuh.

Suatu ketika dalam hidupnya, Zi Gong pernah bertanya kepada Kong Zi tentang bagaimana seseorang harus bersikap di dalam hidup. Kong Zi tidak menjawab dengan kata-kata belaka. Beliau mengajak Zi Gong masuk ke dapur. Ketika Zi Gong bingung dan menunggu, gurunya sudah asyik menyiapkan perapian dan mulai memasak air. Kala air mulai mendidih, Kong Zi keluar rumah dan kemudian masuk kembali sambil membawa sebongkah batu. Kemudian batu itu dimasukkannya kedalam air yang mulai mendidih. Kong Zi merebus batu!.

Dalam hati Zi Gong bertanya-tanya tentang keanehan Sang Guru. Namun ia belum berani bicara dan diam menunggu. Selang beberapa waktu Kong Zi mengeluarkan sang batu dan menaruhnya diatas meja. Tiba-tiba Kong Zi berkata, "Kamu jangan seperti Batu". Mulut Zi Gong menganga, "Batu ini begitu keras, direbus didalam air panas mendidih pun tidak berkurang kerasnya. Orang seperti batu, sangat kaku, merasa paling benar, paling jagoan dan tidak bisa berubah. Padahal kehidupan selalu berubah. Diatas pohon tinggi masih ada awan. Diatas awan masih ada langit. Diatas langit masi ada Tian. Bagaimana mungkin kita, manusia biasa, boleh merasa diri paling sempurna?".

Zi Gong tersadar. Sang Guru sedang memberinya pelajaran lewat contoh sederhana. Inilah yang acap kali membuat Zi Gong dan saudara-saudara seperguruannya begitu mengagumi cara Gurunya mengajar. Pelajaran yang begitu rumit dan dalam sekali, pun bisa diuraikannya secara amat sederhana. Sungguh Sang Guru manusia agung. Setelah merenung sejenak Zi Gong lalu bertanya, "Guru, saya harus bersikap bagaimana?".

Seperti tadi, kali ini Kong Zi pun tidak menjawab. Ditambahkannya, kayu ke dalam perapian dan sekali lagi beliau beranjak ke luar rumah. Tak lama kemudian ia membawa sebongkah salju yang mengeras. Tanpa berkata-kata bongkahan salju itu dimasukkannya kedalam air yang bergolak panas. Dalam hitungan detik, salju pun mencair. Hilang dari pandangan, luluh bagai air. Lalu Kong Zi berkata, "Kamu jangan seperti bongkahan salju. Kelihatan keras, berkarakter, punya prinsip dan teguh pendirian, namun baru diuji sebentar saja semuanya lenyap tak berbekas. Suka mengecam orang lain yang tidak jujur, berlaku sok suci, namun ketika dihadapkan pada kehidupan nyata, semua idealismenya hancur tak berbekas dan akhirnya ikutan korup".

Zi Gong tersadar. Dia kini sudah dihadapkan dua ekstrim: keras kepala versus tidak berpendirian. Punya prinsip kaku versus prinsip fleksibel banget. Dia kini ingat nasihat Sang Guru sebelumnya. Terlalu kiri tidak baik. Terlalu ke kanan juga tidak baik.Terlalu cepat tidak tepat. Terlalu lambat juga tidak tepat. Terlalu maju perlu direm. Terlalu lambat perlu didorong. Yang terbaik adalah Zhong Yong, Tengah Sempurna.

Ketika Sang Guru memandangnya sambil tersenyum. Zi Gong tersentak dari lamunannya. Sambil menghormat, Zi Gong kembali bertanya, "Saya memahami penjelasan Guru. Namun saya belum menemukan jawaban tentang bagaimana saya seharusnya menyikapi kehidupan. Mohon Guru berkenan memberikan petunjuk lebih lanjut".

Seperti sebelumnya, Kong Zi juga tidak menjawab. Kini ia pun bangkit dari tempat duduknya dan segera beranjak. Tidak ke halaman depan rumah, melainkan ke belakang. Tak lama kemudian Sang Guru membawa dua butir telur ayam ditangannya. Telur yang satu kemudian dipecahkannya di depan Zi Gong. Segera Zi Gong bisa melihat cairan telur yang telah meleleh membasahi meja. Cari namun kental. Telur kedua kemudian dimasukan kedalam air yang mendidih.

Setelah berdiam cukup lama, tiba-tiba Kong Zi mengeluarkan telur yang sudah matang dan megelupasnya. Segera tercium telur yang sudah matang dan megelupasnya. Segera tercium harum aroma telur rebus dan terlihat putih ranumnya telur matang. Telur yang semula cair dan kental dikala mentah, kini berubah menjadi lebih keras sesudah matang. Lalu Kong Zi pun berkata, "Kamu pun jangan menjadi telur rebus. Baru belajar sedikit, sudah merasa mampu menguasai semua. Baru paham secuil ayat suci, merasa sah memonopoli kebenaran, sombong, ekstrem, takabur".

Cukup lama Zi Gong merenung. Satu-satu terlintas wajah sahabatnya. Bertapa sulit mencari pembelajar sejati, yang tekun belajar tanpa kenal lelah, mampu menerapkan pengetahuannya dalam kehidupan sehari-hari dengan baik dan tetap rendah hati. Tidak sombong. Terbayang salah satu wajah saudara seperguruannya yang terpandai, Yan Yuan. Kiranya hanya dialah yang pantas disebut sebagai pembelajar sejati. Tak salah bila Sang Guru begitu menyanyangi Yan Yuan. Figur Yan Yuan jelas bukan seperti telur rebus yang diceritakan Sang Guru. Kalau mau jujur, dirinya pun masi ada unsur telur rebusnya. Terkadang di bawah sadarnya, ia masih suka menyombongkan diri sesekali. Ia harus berubah. Sang Guru telah dengan jitu menyentilnya secara tidak langsung.

Setelah sadar, wajah Zi Gong langsung bersemu merah kala gurunya tersenyum-senyum memandangnya dari tadi. Seakan telah terbuka semua rahasia hatinya. Tapi mengapa harus malu? Bukankah Sang Guru memang sudah memahami segenap kekuatan dan kelemahannya? Tanpa menunggu pertanyaan Zi Gong, Kong Zi kembali bergegas kebelakang. Diambilnya sebuah wortel dari kebun. Seperti sebelumnya, wortel itu pun dimasukkannya ke dalam air mendidih. Selang beberapa waktu, wortel itu diangkatnya dari air rebusan. bersamaan dengan itu Kong Zi pun berkata, "Zi Gong, kamu pun tidak boleh menjadi wortel rebus".

Sejenak Zi Gong tercenung. Dipegangnya wortel rebus itu sambil dipencet-pencet. Wortel yang semula keras kini menjadi lunak. Namun ia tetap bisa dikenali sebagai wortel. Mengapa gurunya mengatakan seperti itu? Bukankah wortel melambangkan fleksibilitas, keluwesan, namun sekaligus kekukuhan untuk mempertahankan prinsip, sehingga tetap tidak kehilangan jati diri? Mulut Zi Gong ingin meluapkan banyak kata-kata, berjuta argumen; namun entah mengapa seakan terkunci.Sang Guru tetap tersenyum. "Zi Gong, wortel memang luwes, fleksibel, mampu beradaptasi, mampu beradaptasi menyesuaikan diri. Hebatnya lagi ia tidak kehilangan jati dirinya. Lambang seseorang yang teguh mempunyai prinsip, namun tidak kaku. Bagus. Tapi, cobalah kamu lihat air ini. air ini tetap tidak berubah. Tidak ada nilai tambah. Apa artinya? Pengorbanan wortel itu menjadi sia-sia. Tidak mengubah apa-apa."Mata Zi Gong membelalak lebar, wajahnya memancarkan roma kegembiraan. Sekali lagi ia mendapat pencerahan dari gurunya yang amat bijaksana. Ia sungguh-sungguh beruntung mempunyai guru yang begitu arif dan bijaksana.

Sampai di sini Zi Gong sudah tidak merasa penasaran lagi. Ia seakan sudah cukup terpuaskan dengan empat contoh yang diberikan gurunya. Dia tidak sadar bahwa Sang Guru sudah mengganti airnya, menambahkan kayu bakar dan mulai merebus air kembali. Dia baru sadar kembali kala gurunya menaruh bongkahan gula batu kedalam air mendidih.

Tak lama kemudian Sang Guru berkata, "Jadilah kamu gula batu, muridku. Tubuhnya memang hancur seperti bongkahan salju, tapi bukan karena ia tidak punya prinsip. Kelihatannya kalah, tapi sebenarnya dialah yang menang, yang menguasai yang membuat air berubah manis. Biarkan orang menyangka diri merekalah yang menang, namun sesungguhnya telah dikalahkan secara cerdik dan halus. Bila kamu bisa meresapi dan menghayati makna filosofi gula batu ini, kamu akan bisa menerapkanya di bidang apa pun di sepanjang hidupmu. Itulah jawaban atas pertanyaanmu semula, bagaimana sikap terbaik dalam kehidupan".

Mata Zi Gong mendadak bersinar ribuan watt. Dia sungguh-sungguh tercerahkan. Dengan menangis haru Zi Gong bersujud di hadapan Sang Guru. Dipeluknya erat-erat kaki Kong Zi. Lama, sangat lama. Hari ini dia telah mendapatkan mutiara kehidupan yang tak ternilai harganya. Dia berjanji dalam hati. bertekad memanfaatkannya dalam kehidupan sehari-hari dan menyebarkannya ke seluruh dunia.

Sheng Ren Kong Zi pun tersenyum haru. Dia menaruh harapan besar pada murid-muridnya, terutama Zi Gong dan Yan Yuan. Di tangan merekalah masa depan ajarannya diharapkan bisa semakin berkembang. Ia selalu menaruh harapan besar kepada generasi muda.

Harapan Kong Zi tentang muridnya sebagian besar terwujud. Khusus tentang Zi Gong, dia tumbuh menjadi orang yang sukses, baik di masyarakat, dalam pemerintahan dan juga sebagai pengusaha. Semua itu tidak lepas dari sifatnya yang luwes, lentur, namun tetap memegang prinsip. Kemampuan diplomasinya bahkan beberapa kali menyelamatkan dan mendinginkan situasi panas yang terjadi dalam hubungan antar kerajaan pada masa itu. Tak jarang ketika Kong Zi diangkat menjadi Menteri Kerajaan Lu, Zi Gong sering diutus Sang Guru untuk menangani hal-hal penting, persoalan-persoalan yang berat. Ia memang murid yang bisa diandalkan.

****

dikutip dari buku 8 x 3 = 23 (pengarang: Budi S. Tanuwibowo) dengan judul Kearifan Gula Batu

Post a Comment